USAI…

8 min


Di sanggar pramuka Kab.Madiun

Ketika senja menyapa awan-awan yang berubah menjadi gambaran abstrak menambah keindahan langit, disaat cahaya matahari telah berganti cahaya bulan kini langit telah bertabur bintang seperti bubuk krim diatas kopi, mengkilat begitu indah dan membuat rasi bintang yang entah aku sendiri belum mengetahuinya.

Aku tengah duduk bersama teman-temanku menunggu upacara pelepasan dari kontingen Kab.Madiun dimulai.Obrolan-obrolan mengasyikan sudah sedari tadi kita lalui, entah sudah berapa lama hingga suara himbauan menyuruh kita untuk segera berkumpul di pendopo.Obrolan mengasyikan itu harus kita hentikan, kemudian bergegas menuju pendopo.  Aku mensejajarkan tubuhku berbaris dengan rapi mengikuti instruksi yang aku dengar.

Upacara pelepasan dilakukan sekitar 1 jam dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB selebihnya waktu kita gunakan untuk beristirahat, memejamkan mata atau hanya sekedar rebahan di atas tempat tidur. Di sanggar pramuka ini telah tersedia kurang lebih 20 kamar tidur yang masing-masing memiliki tempat tidur tingkat 2 buah.Aku dan tujuh kawanku menempati kamar nomor 13 yang tidak jauh dari mushola dan kamar mandi. Rasa kantuk belum menghadiriku hingga pukul 23.00 WIB kita masih saja mengobrol hal-hal yang tidak berujung akhirnya, mungkin karena memang kita belum mengenal satu sama lain.

Di KAB.Nganjuk

Perjalanan yang cukup lama sekitar satu jam setengah, membuat aku sedikit pegal karena tidur dengan posisi duduk tidaklah nyaman. Bus berhenti tepat di depan SMA Katolik ST Agustinus, sekolah yang bersedia menjadi base camp kontingen Kab.Madiun. Semua peserta telah terbangun dari tidurnya dan satu per satu turun dari bus, membawa barang mereka masing-masing kemudian berkumpul di lapangan basket SMA.

“Semua berkumpul di lapangan ini dulu, urusi barang-barang kalian jangan sampai ada yang tertinggal di dalam bus karena jika tertinggal itu bukan tanggungjawab kami.”Suara himbauan dari kak Syifa selaku ketua DKC Kab.Madiun yang menggunakan pengeras suara.

***

Jam 13.00 WIB suara sirine tanda berkumpul sudah dikumandangkan, dan aku masih di mushola tapi aku sudah selesai menjalankan sholat dhuhur. Aku berjalan dengan dua orang temanku terburu-buru untuk segera mengambil barang yang dibutuhkan saat bakti pengecatan dan segera baris, untung saja keterlambatanku tidak membuat kak Syifa marah.

Masing-masing dari kami sudah diatur kelompoknya.Aku mendapati kelompok 7 yang terdiri dari 5 putra dan 5 putri. Untung saja aku bersama Sanni jadi aku tetap mendapatkan teman, ya aku tahu kita harus mengenal satu sama lain, tapi setidaknya aku punya teman akrab yang akan kuajak kemanapun saat aku membutuhkannya. Alma gadis bertubuh kecil dengan lesung dipipinya, Feby perempuan berkulit putih pembawaannya yang sedikit pendiam, Jenifer perempuan yang mempunyai tahi lalat di sebelah matanya, Sanni seorang yang sudah aku kenal sebelum fwkk ini namun kita berbeda sekolah pembawaannya yang humor suka diajak bercerita dan semua darinya aku menyukainya, Aku sendiri Ernita nama singkat yang kurangkai sendiri dari nama lengkapku gadis mungil, suka bercanda dan hobinya ngusilin temennya tapi kalo diusilin balik marah, begitulah pembawaanku. KemudianAldo laki-laki yang mempunyai suara sangat merdu yang aku ketahui saat dia pernah bernyanyi di kamera handycamp ku, Putra laki-laki dengan senyum sangat manis dan sedikit lesung dipipinya, Rendy bertubuh tinggi dan kulitnya yang sedikit coklat, anggota yang paling muda diantara kami karena umur dia yang 1 tahun lebih muda dari kami semua, Ahmad laki laki yang sedikit lemot kalo diajak ngobrol tapi orangnya supel, dan yang terakhir Rama dia sekidit unik dari yang lainnya sifatnya yang lebih lembut dan sedikit dewasa tapi tetap humor seperti kita semua.

Kami mulai berjalan bersama-sama menuju desa kramat tempat bakti pengecatan dilakukan, kelompokku mendapati rumah yang bernomor 82.Setelah mencari-cari kami belum menemukannya, karena ada rumah yang sangat indah berada diantara nomor 81 dan 83 kami sempat bingung karena tidak mungkin jika rumah yang sudah sempurna itu akan di cat oleh tangan-tangan kita. Untuk memastikannya Aldo ketua kelompok kami menanyakannya pada panitia yang sedang berlalu lalang memakai rompi oranye.

“Kak permisi, kelompok kami belum menemukan rumah yang akan kami cat.Bisa kah kakak membantu kami mencari, karena saya fikir itu rumahnya (sambil menunjuk rumah yang indah tadi) tapi saya belum yakin.”Tanyanya pada kak Danni perempuan berkacamata yang telah aku kenal lebih dahulu dibanding teman lainnya.

“Oh begitu, baiklah akan saya bantu dengan menanyakan tuan rumahnya.” Jawabnya.

Kami semua berjalan menuju rumah indah itu, mengetuk pintu rumahnya dan menunggu sang pemiliknya keluar. Beberapa menit seorang bapak dan ibu yang berumur sekita 50 an keluar dan menjawab salam dari kami. Lalu kak Danni menjelaskan, dan memang benar jika rumah indah itu bersedia kami cat karena terdapat stiker fwkkp dengan nomor 82 yang tertempel di kaca jendela. Aku tidak menyangka sama sekali, ibu sang pemilik rumah sangat ramah dan tidak merasa keberatan jika tembok rumahnya kami cat. Kemudian bapak pemilik rumah tersebut mengeluarkan cat dan peralatan mengecat lainnya.

“Terimakasih atas kesediaanya ibu, saya tinggal dulu karena saya harus melihat peserta-peserta lainnya.” Pamit kak Danni pada ibu pemilik rumah tersebut.

Kami berjabat tangan mencium tangan bapak dan ibu pemilik rumah ini, nama ibu pemilik rumah ini adalah bu Nani dan suaminya pak Anang. Kami pun melanjutkan aktifitas kami dengan membersihkan area yang akan di cat.

***

Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, kak Syifa menyeru kita untuk segera bersiap siap agar cepat menuju lapangan utama. Kelas tempat tidur kita berasa pasar malam baru, dengan suara suara yang gaduh ada yang teriak ada yang belum siap lah, dari dulu pramuka mengajarkan kita disiplin dalam keadaan apapun. Aku dan teman teman ku memilih tidak terlalu berbicara dan segera keluar dari kelas, menghirup udara malam yang segar karena di dalam kelas udaranya sangat lembab membuatku agak sulit untuk bernafas.

Ketika semua telah berkumpul di lapangan SMA, kak Syifa langsung menyuruh kita untuk cepat berangkat menuju lapangan utama.Karena malam ini adalah malam pembukaan tentunya tidak mau sampai terlambat datang.Aku yang sedari tadi bergandengan tangan dengan putri baru bisa mengobrol saat ini, karena sedari tadi aku tidak dengannya kita berbeda kelompok, dan aku hanya bersama Sanni.Dia bercerita tentang teman barunya yang di kenalnya saat bakti pengecatan siang tadi.Aku pun juga menceritakan teman teman yang baru ku kenal kepadanya. Kami saling bertukar cerita satu sama lain, hingga kami sudah berada di lapangan utama di depan sebuah panggung megah bertuliskan” FESTIVAL WIRAKARYA KAMPUNG KELIR PRAMUKA 2019”. Aku duduk diatas tanah yang beralaskan kayu, berjajar dengan Putri, Sanni, dan Alma.

Pembukaan dimulai dengan tiga kali dentuman gong yang dipukul oleh Bapak Drs. Supiyanto MM selaku Ketua Kwartir Kabupaten Nganjuk dan yang bertanggungjawab atas berjalannya acara fwkkp di zona 7 ini.Tepuk tangan dari kami semua menciptakan keramaian malam hari ini. Setelah pembukaan resmi dilakukan kini giliran panggung di hiasi oleh penari-penari yang elok dipandang, dengan pakaian mereka yang tradisional wajah yang dipolas dengan berbagai jenis make up membuat tampilan mereka diatas panggung menjadi sorot mata kita semua.

***

Tidur malam ku cukup nyaman walaupun hanya beralaskan tikar dan selimut tipis yang membungkus tubuhku, setidaknya aku tidak kedinginan tadi malam.Aku sudah mandi dan merapikan diri bersiap untuk hari kedua bakti pengecatan, dengan sebungkus nasi yang telah disediakan panitia aku mengisi perut kosong ku.Putri yang sedang sibuk membereskan pakaian nya aku iming-imingi dengan menyodorkan satu sendok nasi di dekat hidungnya. Dia sedang kelaparan tapi katanya tempat tidurnya harus bersih dulu setelah itu baru dia akan makan.

“Hmm.., yang rajin bersih-bersih nggak mau cepet-cepet makan nih.” Godaku padanya.

“Ishh, kamu nyebelin.Oke habis ini semua akan selesai dan aku akan makan karena perutku benar-benar sangat lapar.”Sahutnya memelas.

“Cepetan makan, kan habis ini akan senam dulu di lapangan utama.Malah kamu tidak jadi makan, dan harus menahan lapar hingga senam selesai.”Ujarku yang tak berhenti menggodanya.

Senam dilakukan sekitar 1 jam lamanya, dipimpin oleh seorang komando senam yang memakai baju ketat, kepalanya yang di tutupi topi dengan gerakan lincah memimpin kami semua yang berada di bawah panggung. Aku dan Sanni mendapati tempat terbelakang tapi tidak apalah mataku tetap bisa melihat gerakan yang diberikan, dan rasa perih di perutku hilang tanpa aku sadari. Saat lagu terakhir komando senam tadi menutup gerakan senamnya dengan sedikit rileksasi, kita seperti sedang di bawa dialam yang berbeda sangat tenang sejuk dan kata kata motivasi yang dikatakan beliau sangat membuat semangat kita naik. Kata kata tentang pentingnya arti sebuah pertemanan.Aku mendengarkan setiap kata-kata yang beliau ucapkan, begitu menyentuh hatiku. Dengan saling menggenggam tangan kita satukan perbedaan. Tidak memandang siapapun mereka, dari mana asalnya, apa kekurangan mereka. Kita tetap satu atas nama pramuka.

Bakti pengecatan dilakukan setelah senam selesai.Kini aku sedang berada di bawah pohon bersama Sanni, menunggu kelompok kami berkumpul dengan lengkap. 10 menit lamanya kami menunggu akhirnya mereka datang juga. Kami berjalan bersama sama membentuk dua banjar kebelakang, aku dan Sanni memilih berjalan di depan sendiri karena aku ingin memotret mereka dari depan. Terlihat manis.

Ketika telah sampai di depan rumah bu Nani, Aldo mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam. Yang lainnya hanya menunggu di depan sambil duduk bersila. Pintu terbuka bebarengan dengan jawaban salam dari pak Anang. Kami semua berdiri kemudian berjabat tangan dengan mencium tangan beliau. Lalu kami membagi tugas ada yang membersihkan area yang akan di cat, ada yang mencampurkan air dan cat, kemudian bagian mengecat. Kami bagi tugas dengan rata.

Berhubung ini adalah hari terakhir pengecatan kami semua tidak terburu-buru untuk kembali menuju base camp. Kami semua berkumpul di teras depan rumah menunggu bu Nani, untuk berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih karena beliau telah menerima baik kami semua di rumahnya. Beberapa menit kemudian setelah kami menunggu, bu Nani keluar dengan pakaian dasternya yang berwarna biru senyum merekah tergambar di bibirnya.

“Permisi bu, kami semua mau pamit serta mengucapkan banyak terimakasih kepada bu Nani karena telah menerima baik kita di rumah bu Nani, maaf jika kami selalu merepotkan bu Nani.”Ucap Aldo yang mewakili kami semua.

“Iya nak, tidak apa-apa ibu malah senang sekali jika ada tamu seperti kalian anak-anak muda yang ibu anggap seperti anak ibu sendiri, ibu yakin kalian adalah anak-anak yang baik semua . Jika kalian ke Nganjuk jangan sungkan sungkan ya untuk main dirumah ibu, pintu rumah ibu selalu terbuka untuk kalian.” Ujar bu Nani yang membuat hati kita sedikit tidak enak.

Beliau ini sangat baik, belum lagi setelah berpamitan bu Nani memberikan sebuah kaos berwana merah tapi itu hanya untuk Aldo, dan untuk kami beliau memberikan souvenir kaca sisa pernikahan anak pertamanya. Sungguh ini sangat membuat aku benar-benar takjub dengan kebaikan beliau. Untuk mengenang pertemuan indah ini, kami berfoto bersama dengan bu Nani di depan rumahnya dengan barisan yang rapi. Sebuah foto yang dapat diabadikan jika kami telah berkunjung dan mengenal bu Nani dengan sangat baik.

Sorot lampu panggung yang bersinar terang menambah gemerlapnya acara pada malam kedua, membuat Desa Kramat menjadi kian ramai. Tidak hanya dari peserta warga desa juga ikut serta dalam melihat pementasan yang tersaji di atas panggung, namun harus terbatas dengan pagar hitam. Tapi itu tidak membuat kecewa warga, malah sebaliknya banyak warga dari anak–anak kecil hingga dewasa berbondong-bondong menuju lapangan utama untuk melihat serangkain acara.

Aku berjalan dengan segerombolan orang membentuk dua banjar panjang seperti ular yang berjalan. Kami sedang berjalan menuju lapangan utama dengan menyanyikan yel-yel kebanggaan kontingen kami untuk menambah semaraknya malam keakraban ini. Tidak hanya dari kontingen kami kontingen lainnya juga sahut menyahut menyanyikan yel-yel kebanggan meraka hingga sampai pada lapangan utama. Pembawa acara menyapa kami semua dengan senyum merekah terbentuk tulus dari wajahnya.”Selamat malam semua..!! Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarakatuh.” Serentak kami menjawabnya. Setelah pembawa acara selesai dengan kalimat pembukanya kini giliran pentas seni pertama akan ditampilkan. Kebetulan sekali kontingen ku mendapati nomer urut pertama jadi yang akan menampilkan kesenian pertama adalah dari kontingen ku. Kontingen ku akan menampilkan kesenian dongkrek dan semaphore dance. Kesenian dongkrek akan ditampilkan terlebih dahulu lalu nomer urut tiga semaphore dance akan di tampilkan.

Berada di dalam elf dengan jumlah 20 orang membuat aku sedikit gerah, apalagi ini tidak ber AC. Aku hanya mengibaskan telapak tanganku sambil menunggu pak supir yang sedari tadi ntah kemana. Beberapa menit kemudian tepat pukul 06.10 WIB kami berangkat, angin sejuk berhembus sedikit kencang melewati kaca yang aku buka. Masing-masing dari kami telah berkenalan, sekarang aku telah mengenal 4 anak Jombang, 3 anak dari Nganjuk. Dan yang dibelakang aku sedikit tidak mengenal karena kursi ku yang berada di paling depan sendiri bersebelahan dengan pak supir dan satu teman disebelahku. Namanya Via dia sama denganku berasal dari kontingen Kab.Madiun hanya saja kami berbeda sekolah.

Sebelum melihat keindahan air sedudo, kita harus berjalan kira-kira 1 kilometer menuju dataran tinggi, jauh juga tapi itu tidak membuatku putus asa. Saat aku telah mencapai puncak rasa lelah ku terbayar sudah dengan melihat pemandangan sejuk nan asri yang telah Tuhan ciptakan ini. Tidak lupa aku mengambil beberapa gambar untuk kuabadikan. Tujuan kami datang ke air terjun sedudo bukanlah hanya untuk bermain-main melainkan kerja bakti dalam membersihkan wisata alam ini supaya tetap terjaga kelestariannya. Sekitar satu jam kami bergotong royong. Kami semua diperbolehkan istirahat dan menikmati suguhan yang telah di sediakan panitia. Satu gelas teh hangat dan ketela goreng cukup untuk menghangatkan tubuhku di tempat yang suhu nya lumayan dingin.

Cerdas cermat akan tetap dilaksanakan walaupun awan hitam menyelimuti langit dan tetap meneteskan airnya di atas sana. Kami semua tetap semangat, dengan pakaian yang perlahan basah karena air hujan kami tetap mengikutinya hingga acara selesai. Siapa yang tidak ingin berlibur di luar negeri dengan gratis, pastinya kami semua ingin. Pukul 17.00 WIB cerdas cermat usai dan aku kalah dalam kompetisi itu tetap memperlihatkan rasa kecewaku dengan senyuman. Tidak sabar menunggu malam brawijaya terakhir.

Deras hujan menghujam tanah, suara bising setiap tetesnya berdentum di atas triplek yang menutup tanah di area lapangan depan panggung menciptakan irama abstrak yang terabaikan oleh telinga. Namun rasa dingin di kulitku tak bisa dibohongi, dengan baju basah seperti ini ditambah udara yang tak kunjung hangat dapat dipastikan jika malam ini aku akan masuk angin. Aku sedang berada di kerumunan peserta fwkk yang sedang merayakan malam brawijaya terakhir dengan guesstar “KELANTINK”. Beberapa lagu telah dinyanyikan cukup menghibur kami semua, menghilangkan rasa dingin, mengantuk, lelah dari diri kami semua. Malam ini sungguh sangat gemerlap dengan sorot lampu yang terus menyinari langit berputar-putar membentuk keindahan di malam ini, suara kembang api bersahut sahut diatas sana, menutup malam brawijaya ini. Hingga pukul 23.00 WIB seluruh peserta meninggalkan lapangan utama.

Esoknya kami semua dari kontingen Kab.Madiun kembali pulang dengan mengendarai bus dengan jumlah 3 bus besar dan 4 bus kecil. Sama seperti saat berangkat menuju Nganjuk hanya dengan 1 jam setengah kami telah sampai Kab.Madiun. Berjabat tangan satu sama lain, kemudian satu persatu menaiki mobil sekolahnya pergi dan selamat tinggal kenangan festival wirakarya kampung kelir pramuka 2019.

***

Nama lengkap : Erni Yunita

No.anggota SIPA : 270920010148

Alamat lengkap : PPTQ AHMAD DAHLAN

JL.Bismo, Mojorejo, Klitik, Wonoasri, Kab.Madiun

Akun Media Sosial :

-Instagram : nittayun_27

-Facebook : Taa

-Twitter : Erni yunita


Admin DKD

DKD Jawa Timur merupakan wadah pembinaan kaderisasi ditingkat kwartir yang diberikan kepercayaan khusus untuk mengelola secara penuh Pramuka Penegak dan Pandega se-Jawa Timur.

Yuk buat konten di website DKD Jatim, kamu bisa tulis artikel, berita, promosi kegiatan, poling, quiz dan konten lainnya. Dapatkan point dan tukarkan dengan hadiah kejutan dari DKD Jatim

Jangan lupa ikuti terus kabar dari DKD Jatim lewat Media Sosial kami.

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Yuk berikan tanggapan komentar dari postingan ini.x
()
x
Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Meme
Upload your own images to make custom memes
Gif
GIF format