Kiprah Gerakan Pramuka Terhadap Isu Perempuan

7 min


KIPRAH GERAKAN PRAMUKA

DALAM MEMERJUANGKAN ISU PEREMPUAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Nunuk Hidayati

Email: [email protected]

Latar Belakang

Persoalan kesetaraan gender di Indonesia pada umumnya telah menjadi sebuah doktrin negara. Namun yang disayangkan adalah masih sering sekali terdapat sebuah kekerasan terhadap perempuan terutama para perempuan yang masih dibawah umur. Banyaknya praktik terselubung yang kemudian merugikan keberadaan wanita atau adanya ketidaksetaraan gender terhadap peran perempuan pada sektor publik. Dalam persepsi masyarakat adanya perbedaan gender yang kemudian dikonstruksikan secara sosial atau kultural dapat mengakibatkan terciptanya sebuah perbedaan perlakukan antara laki-laki dan perempuan. [1]Padahal ketika dilihat dari segi perbedaan (perbedaan gender) tersebut maka tidak menjadi sebuah permasalahan namun masalah tersebut muncul ketika terjadi sebuah ketidakadilan yang dapat merugikan pihak laki-laki dan termasuk di dalamnya adalah perempuan. 

Hadirnya sebuah organisasi dalam sebuah negara adalah sebagai alat bantu pemerintah dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa untuk menjadi lebih keritis dalam berpikir, memiki keberanian menyuarakan, serta sebagai wadah dalam menempa anak muda untuk mengetahui potensi dirinya. Terlebih bagi para perempuan, yang selalu digadang sebagai sekolah pertama bagi generasi penerus bangsa. Maka sudah tentu anak-anak perempuan harus mendapatkan pendidikan yang layak maka dalam hal ini Gerakan Pramuka telah memberikan wadah tersebut. Sebagaimana tujuan Gerakan Pramuka yang tertuang dalam Undang-Undang Gerakam Pramuka Nomor 12 tahun 2010 pada pasal 4 yang berbunyi “ gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat terhadap hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan pancasila, serta diharapkan mampu melestarikan lingkungan hidup.”

­hadirnya organisasi pendidkan disiapkan dalam rangka menghadapi berbagai tantangan serta persiapan global. Yang diselanggarakan guna menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi, serta efisiensi yang berkesinambungan pada Pncasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.[2] Sebagai bagian dari negara, Gerakan Pramuka memberikan sebuah proses pembentukan kebribadian, kecakapan hidup, serta akhlak yang mulia tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Sudah semestinya Gerakan Pramuka menjadi sumber referensi organisasi lain dalam peran memajukan pendidikan generasi emas yang dicita-citakan bangsa dengan menekankan pada pendidikan karakter yang baik serta memiliki dampak pada perkembangan zaman. 

Eksistensi peran perempuan

Keikutsertaan perempuan dalam proses pembangunan akan selalu menarik untuk terus dibahas. Kesetaraan gender telah mendapatkan posisi penting dalam negara. Tidak mudah dalam mewujudkan keberadaan perempuan untuk meningkatkan kualitas para perempuan ketika melihat dari segi kondisi dan perekonomian negara. Hal ini harusnya mampu kita lihat sisi lain yang setidaknya telah dilakukan oleh negara dalam mengangakat peran dan melindungi wanita, sekalipun hal tersebut dapat dianggap masih samar-samar kita ketahui paling tidak munculnya sasaran peningkatan kualitas hidup bagi perempuan yang ingin terpenuhui dalam aspek pembangunan, maka hal ini setidaknya telah menunjukkkan adanya komitmen pemerintah untuk lebih memberdayakan keberadaan perempuan. Akan menjadi pertanyaan kembali bagi kita, mengapa harus perempuan ? hal ini akan menjadi amat mudah untuk dijawab karena hadirnya generasi penerus bangsa adalah mereka yang lahir dari perempuan-perempuan yang hebat. Tidak berlebihan ketika melihat ungkapan dari seorang penyair[3] yang sering kita dengar bahwa:

“ seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya”

Dari ungakapan tersebut maka dapat kita pahami betapa pentingnya peran wanita ketika telah menjadi seorang ibu, bahwa ketika ia menyiapkan anak muda generasi penerus bangsa yang hebat. Maka dalam hal ini sama halnya bahwa ia telah mempersiapkan masa depan bangsa menjadi lebih cerah, dengan memberikan pendidikan yang baik untuk pokok pangkal sebuah bangsa yakni anak muda. Perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas yang sama untuk berkembang, munuangkan ide, berbicara soal kemajuan bangsa. Setiap perempuan akan tumbuh ketika mereka diberikan kesempatan yang sama dalam pengembangan bangsa.[4]

Dimulai tahun 1978 secara prinsip pemerintah telah berupaya dalam rangka meningkatkan peran perempuan dalam keikutsertaan pembangunan nasional, telah diproklamasikan sebagai suatu pembahasan prioritas nasional. Upaya ini dilakukan dalam rangka menyemangati peran perempuan untuk mengkontribusikan diri dalam pembangunan bangsa. Dalam data empiris telah menunjukkan bahwa kebanyakan dari perempuan yang ada di Indonesia melakukan kegiatan rumah maupun kegiatan dalam mencari nafkah. Para pempuan baik di desa dan di kotayang tergolong pada bagian masyarakat yang memiliki pendapatan cenderung rendah mereka memilih untuk mencari nafkah bukan dengan maksud untuk mengabaikan tugas sebagai seorang wanita ketika telah berkeluarga atau dalam rangka untuk berkompetisi dengan laki-laki, sebagaimana yang diasumsikan oleh banyak pihak, yang pada dasarnya hal tersebut dilakukan sebagai strategi dalam bertahan hidup.[5]

Pendidikan Karakter

Penekanan utama dalam pendidikan karakter adalah munculnya kesadaran diri yang ada kaitannya dengan berbagai macam potensi diri yang telah dimiliki dalam dirinya, yaitu mengenai dimensi lahir dan batin. Diambil dalam kata pendidikan, Maka aka muncul kata kerja mendidik yakni sebagai prilaku yang menanamkan nilai adab dan akhlak yang kemudian akan menjadi sebuah contoh baik dalam lingkungan yang mengitarinya.[6] Maka akan menjadikan pertanyaan bagi kita lalu apakah hadirnya pendidikan dalam Gerakan Pramuka dapat dikatakan telah membawa karakter yang baik untuk pramuka?. 

Tolok ukur tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan adalah ketika tidak terjadi adanya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anggota Gerakan Pramuka. maka ketika hal tersebut masih sulit untuk dicapai sudah barang tentu penting untuk memperbaiki cara pendidikan yang dimaksud serta mengevaluasi apakah proses pendidikan yang dimaksud dalam Undang-Undang Gerakan Pramuka sudah dapat dikatakan berhasil. 

Sejalan dengan tujuan Gerakan Pramuka yang tidak mengintimidasi gender, perempuan telah diberikan peran untuk menunjukkan dirinya di depan umum sebagai manusia yang juga memiliki kemapuan dalam kepemimpinan. Munculnya pemimpin Gerakan Pramuka dari perempuan pada berbagai daerah adalah upaya yang kirannya juga ditunjukkan oleh Gerakan Pramuka, bahwa kaderisasi terhadap wanita akan semakin lebih baik. Hadirnya pendidikan karakter juga sebagai polesan dari nilai dasar yang dimiliki oleh seorang perempuan, yakni tentang lamah lembutnya dan tentang kasih sayangnya. Yang kemudian dibalut dengan karakter yang diberikan oleh Gerakan Pramuka sehingga membuatnya menjadi wanita yang baik dari prilakunya.

Dalam buku yang berjudul pendidikan kepramukaan berbasis pendidikan karakter menurut Prof . Sukiyat, Bahwa pendidikan kepramukaan merupakan sebuah pendidikan non formal yang dilakasanakan di luar lingkungan sekolah serta di luar lingkungan keluarga, serta memiliki peran sebagai komplemen dan suplemen terhadap generasi yang bertanggung jawab pada masa depan. Sebagian pendidikan non formal Gerakan Pramuka memberikan kesempatan yang sama bagi peserta didiknya yang memiliki usia 7 sampai dengan 25 tahun. Maka dalam hal ini siapapun dapat menjadi bagian dari anggota Gerakan Pramuka.[7] ketika telah menjadi doktrin dalam diri seorang pramuka mengenai pembentukan karakter dalam dirinya maka tidak menjadi hal yang sulit untuk memberikan kepercayaan bangsa ini kepada anak mudanya.

Seyogyanya pendidikan karakter yang diberikan dapat sejalan dengan cita-cita bangsa utamanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa demi tercapainya ketertiban dan keamanan bangsa. Dalam hal pendidikan maka akan muncul nama seorang pendidik yang memiliki peran sebagai fasilitator dan mediator yang berorientasi pada peserta didik sebagai pusat pendidikan.[8] Sudah sepatutnya sebagai seorang pendidik dapat memegang tiga prinsip yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yang diambil dari sebuah kalimat indah untuk selalu ditanamkan dalam hati “Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madya Mangun Karso Tu Wuri Handayani”. Maka ketika nasihat itu dapat berjalan dengan baik, sistem among dalam gerakan pramuka dalam membentuk peserta didik agar memiliki jiwa yang merdeka, kedisiplinan serta bekal kecapakan dalam hidup, dapat berjalan dengan baik. 

Hadirnya Gerakan Pramuka dalam Isu-Isu Perempuan

Keberadaan pramuka putri dan pramuka putra adalah kesatuan dalam Gerakan Pramuka. dalam hal melaksanakan aktivitas dalam proses latihan, pembinaan serta pengembangan terhadap dirinya maka pramuka putri memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama. Munculnya pendidikan kepramukaan yang memiliki arah pandidikan agar peserta didik yakni generasi muda yang dimiliki oleh Gerakan Pramuka memiliki kontribusi dalam pembangunan bangsa serta memiliki kepribadian yang berwatak luhur serta kekuatan mental yang baik.

Keinginan Gerakan Pramuka untuk mendudukan wanita sebagai mitra yang memiliki tanggung jawab dalam pengembangan kepramukan itu sendiri bukan suatu hal yang tabu untuk kita dengar. Banyak dari para perempuan yang ternyata juga diberikan sebuah kepercayaan dalam memimpin organisasi pramuka. Memberikan kepercayaan kepada wanita dalam posisi-posisi penting dalam Gerakan Pramuka merupakan salah satu upaya yang terus dikembangkan terutama dalam iklim sosial guna mendukung keberadaan perempuan  serta menciptaan generasi emas yang dimiliki oleh Gerakan Pramuka untuk memanfaatkan seluas-luasnya kesempatan pengembangan kemampuan bagi wanita melalui peningkatan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan banyak hal baik dari lain dari seorang wanita yang penting untuk dimunculkan. Selain adanya kepercayaan melalui posisi strategis yang diberikan maka beberapa kegiatan yang telah di selenggarakan oleh Gerakan Pramuka juga menjadikan pramuka putri menjadi diberikan keistimewaan melalui kegiatan perkemahan putri tingkat nasional dengan harapan dari dalam jiwa pramuka terutama pramuka putri mampu menunjukkan bakat serta kemampuannya dalam membawa diri dan mengasah diri.

Dalam upaya kebijakan yang telah dilakukan oleh negara telah tertuang dalam : 1) pancasila, dalam pancasila sebagai sebuah pedoman hidup serta ideologi dari bangsa Indonesia tidak membuat perbedaan antara laki dan perempuan. 2) Undang-Undang Dasar 1945, sebagamana yang tercantum pada ayat 27 bahwa: (1) semua warga negara mempunyai status yang sama dalam hukum dan dalam pemerintahan dan tanpa pengecualian menghormati hukum dan pemerintah, sementara pada ayat (2) bahwa tiap warga negara memiliki hak untuk bekerja dan memeroleh kehidupan.[9]

Terdapat lima hal yang ditawarkan oleh Dara [2017:10] untuk menyiapkan mental kepemimpinan seorang wanita, yang Pertama, memberikan pola pendidikan kepemimpinan dengan sama rata antara laki-laki dan perempuan; kedua: memberikan kewenangan dalam mengakses pengetahuan secara setara untuk dapat mengembangkan potensi; Ketiga, memberikan hak dalam menentukan pihan tanpa adanya paksaan; Keempat, melantih mental seorang wanita dalam menuju pendewasaan serta cara untuk hidup lebih mandiri; Kelima, memberikan kebebasan terhadap perempuan dengan tidak menjebak dalam sebuah alibi perlindungan, karena hal ini dapat menjadikan wanita menjadi lebih takut dalam mengambil sebuah keputusan.[10]

Sejalan dengan hal tersebut maka Dalam hal ini Gerakan Pramuka telah ikut serta terhadap pendidikan bagi seorang perempuan, sebagaimana dalam Undang-Undang nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. ketika kita menilik kembali pada pasal 8 (delapan) bahwasanya terdapat nilai kepramukaan yang patut untuk kita pegang teguh. Dari kesepuluh yang disediakan atau point yang melatih agar generasi muda mampu untuk bertanggung jawab serta memberikan pendidikan mengenai arti cinta terhadap tanah air. Yang menjadi nilai lebih dalam Gerakan Pramuka tidak memandang mengenai perbedaan dalam meberikan pendidikan kepramukaan. Sistem pendidikan yang tentunya memuat mengenai nilai-nilai pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, memiliki ketaatan terhadap hukum, menjunjung tinggi nilai luhur bangsa dan buda serta dilatih untuk memiliki kecakapan dalam hidup. Semua pendidikan karakter yang dimaksud adalah dengan tujuan dalam rangka mendukung upaya pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak muda. 

Penutup.

Keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial tidak secara otomatis dapat meningkatkan status perempuan. Maka diperlukan langkah strategis dalam menyelesaikan peremasalahan, yaitu melalui keterlibatan perempuan dalam jantung kehidupan sosial, melalui dengan memberikannya kepercayaan pada posisi-posisi yang dapat melatih tanggung jawab sebagai penentu kebijakan. 

Peran perempuan dalam kontribusinya untuk Gerakan Pramuka tingkat dunia, munculnya gerakan kepanduan yang dibentuk oleh Robert Baden Powell atas bantuan adik perempuannya Agnes telah memberikan dampak yang luar biasa bagi perempuan-perempuan, untuk ikut berkiprah dalam memajukan bangsa melalui karya-karya nyata dalam organisasi kepanduan putri.

Tulisan ini di tulis untuk memberikan semangat terhadap saudari-saudari dalam bakti. Bahwa sekali kita diberikan kehidupan, maka hidup adalah alat untuk mengabdi. Setiap yang hidup memiliki hak dan kewajiban berkontribusi yang sama untuk negara. Saatnya bangkit dan mari kita tunjukkan kontribusi terbaik. Munculnya perbedaan idealisme dalam memberikan kontribusi adalah hal yang wajar namun jika sudah tertanam kuat sebuah tekat untuk kemajuan sebuah organisasi yang memiliki kontribusi maka keegoisan akan sirna tertutup oleh kekuatan bersama. Negeri ini butuh generasi yang peduli pada bangsanya melalui karya nyata.

Terbukanya pintu-pintu diberbagai liding sektor yang diberikan kepada perempuan sudah seharusnya banyak perempuan yang mengambil kesempatan itu, tidak mudah takut dan menyerah. Seiring diterimanya perempuan dalam pengambilan keputusan dan kepercayaan dalam memimpin adalah tanda Runtuhnya sekat-sekat yang membatasi ruang gerak perempuan dalam Gerakan Pramuka. maka kini yang penting dilakukan adalah perempuan harus mampu menunjukkan keberaniannya melawan hal yang salah dan dianggap penting untuk diperbaiki. Dibekali dengan hati yang penuh dengan kasih sayang, tak heran ketika Golongan Orang Dewasa khususnya perempuan Dalam Gerakan Pramuka selalu mendidik dengan cara yang baik serta hati yang lembut. Hal inilah yang nantinya mampu mewujudkan generasi ideal harapan bangsa yang tidak hanya memutuskan suatu perkara berdasar akal tetapi juga dengan kesadaran rasa.

Terimakasih

Semoga kita semua dapat terus memacu semangat untuk saling bekerjasama dalam kebaikan. 

[1]Alfian Rokhmansyah, Pengantar Gender dan Feminisme, Garudhawaca, Yogyakarta: 2016. Hal 18

[2]Syaiful Sagala, Memahami Organisasi Pendidikan, Kencana, Jakarta: 2016. Hal. 3

[3]Hafiz Ibrahim, seorang penyair mesir kelahiran Dayrout Mesir pada 24 Februari 1872 dan meninggal pada usia 60 yang kemudian di makamkan di Kairo Mesir. Terkenal dari awal abad ke-20. Dia kemudian mendapatkan julukan “penyair sungai Nil” yang kadang juga dijuluki sebagai “Penyair Rakyat” karena komitmennya dalam urusan politik untuk melindungi orang-orang miskin.

[4]Maya Muizatil, Negara Tanpa perempuan “Menelisik Peran Negara Untuk Kaum Perempuan:”. CV Jakad Media Publishing. Surabaya: 2019. Hal 19

[5]Aida Vitalaya S. Hubeis, Pemberdaan Perempuan Dari Masa Ke Masa, IPB Press, Bogor: 2011. Hal. 123

[6]Doni Koesma, Pendidikan Karakter, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta: 2007. Hal. 15

[7]Sukiyat, Pendidikan Kepramukaan Berbasis Pendidikan Karakter, Jakad Media Publishing, Surabaya: 2020. Hal. 60

[8]Tukiman Taruna, Analisis Organisasi dan Pola-Pola Pedndidikan, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang: 2017. Hal. 67

[9]Aida Vitalaya S. Hubeis, Pemberdaan Perempuan Dari Masa Ke Masa. Hal. 124

[10]Neng Dara Affiah, Islam, Kepemimpinan Perempuan, dan Seksualitas, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta: 2017. Hal. 7


guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Yuk berikan tanggapan komentar dari postingan ini.x
()
x
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals