Jika sebuah galon berisi penuh air dipasangkan ke dispenser. Lalu seseorang datang ingin mengambil airnya. Seseorang itu menyodorkan gelas ke dispenser, lantas melihat air yang di dalam galon bersendawa. Kita pasti mengira bahwa isi dari galon tersebut telah berkurang. Tidak. Tidak. Isi dari galon tersebut tidak pernah berkurang. Sistem dari semesta kita yang membuatnya seperti itu. Ruang-ruang tidak pernah kosong, ditempati oleh udara.

        Sejatinya, semua yang ada di sekitar kita juga bertata sistem alam semesta seperti kejadian di atas. Jika definisi dari hilang adalah lenyap, maka sebenarnya kata “hilang” itu sendiri tidak pernah ada, sebab segala sesuatu yang tidak ada, hanya sedang bertukar tempat.

        Ruang-ruang yang selama ini ditempati oleh pendahulu-pendahulu pramuka kita. Penggagas-penggagas kita. Perintis-perintis kita. Satu per satu ditukar oleh waktu dengan tunas-tunas manusia baru. Jiwa-jiwa yang baru. Waktu sangat gemar menukar jiwa-jiwa tanpa persetujuan dengan kita. Ruang-ruang selalu ditempati pramuka yang selalu senang berkembang. Ya, meskipun mengingat perbedaan pramuka pada generasi dahulu sangat berbeda dengan generasi sekarang, terutama di bidang kegiatan yang dilakukannya. Kalau generasi dahulu lebih suka dengan kegiatan yang berbau alam. Sebaliknya, dunia selalu berkembang, terutama di bidang teknologi, membuat pramuka generasi sekarang mau tak mau harus mengembangkan kegiatannya berhubungan dengan inovasi-inovasi dunia kita. Tapi hal seperti itu tidak akan menjadi masalah jika kita tetap mengingat sejarah terdahulu.

        Seiring perkembangan-perkembangan pramuka kita, kegiatan-kegiatannya juga turut berkembang. Seperti kegiatan dekat-dekat ini, Festival Wirakarya Kampung Kelir 2019 yang diadakan Kwartir Daerah Jawa Timur dan dimeriahkan oleh jiwa-jiwa pramuka seluruh provinsi. Mengingat arti festival secara umum berarti perayaan, jamuan, dan racikan-racikan kesenangan lainnya. Kita perlu mengetahui bahwa Festival Wirakarya ini memiliki bumbu-bumbu tambahan yang mampu memberikan efek-efek gurih pada masyarakat sekitar area kegiatan. Dan masyarakat pun membiarkan bumbu itu bermain di lidah-lidah mereka. Tempat-tempat mereka. Rumah-rumah mereka.

        Festival Wirakarya ini mampu membuat pesertanya melepas kekreatifannya dengan mengecat rumah-rumah dan lainnya. Warga yang bersangkutan juga bersedia memberikan wadah untuk inisiatif mereka. Dengan sedikit dorongan pengurus kegiatan melalui persediaan alat dan bahan yang kemudian mampu menyihir daerah-daerah tertentu menjadi penuh warna. Tidak hanya mengecat rumah, tetapi juga dilakukan sedikitnya pemugaran rumah.

        Kegiatan yang dilakukan oleh 11 zona dalam Jawa Timur dengan tuan rumahnya masing-masing juga menyediakan ilmu-ilmu berguna bagi peserta dan lainnya. Mengingat festival yang dilakukan merupakan bakti masyarakat, kita mendapatkan materi tentang pola hidup bersih dan sehat. Juga tak perlu dipungkiri lagi bahwa hati para pramuka juga harus disemprot dengan kegiatan-kegiatan yang segar dan tentunya bermanfaat bagi orang lain.

        Festival Wirakarya dilaksanakan secara bergilir tiap zona mulai dari tanggal 19 Februari sampai 29 Maret. Para peserta juga diberikan materi lain, seperti sosialisasi narkoba, karena mengingat Negara Indonesia merupakan negara yang bisa bobrok karena warganya gemar bermain dengan iblis jadi-jadian tersebut. Kita juga perlu berharap pramuka di Indonesia mampu mencetak manusia-manusia yang tahu cara berpikir dengan membedakan positif dan negatif dalam setiap perbuatan dan perkataannya.

        Kegiatan yang berlangsung selama empat hari juga diberikan hiburan untuk peserta dan lainnya, yaitu berupa Malam Brawijaya. Agenda tersebut berisi penampilan-penampilan dari beberapa penghibur terutama dalam hal seninya. Penampilan juga diisi dengan pesertanya sendiri. Mereka yang ingin mengunjukkan giginya bisa tampil di panggung yang megah nan mewah tersebut. Malam yang seharusnya bisa untuk melepaskan penat dengan tidur dan sebagainya, ditukar oleh kemeriahan peserta dalam Malam Brawijaya.

        Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2019 ini diikuti oleh sekitar 11.000 peserta, yang tentu mampu menambah kemeriahan. Kegiatan ini sangat berpengaruh pada pandangan masyarakat terhadap pramuka Indonesia yang mampu memberikan racikan-racikan unik ke masyarakatnya.

        Zaman-zaman terus berubah, bertukar-tukar antar jiwa-jiwa pramuka baru hingga pada kegiatan penuh semprotan karya ini. Semoga pada zaman-zaman selanjutnya, kita bisa tukar tambah untuk pramuka yang lebih berinovasi lagi.

        Salam Pramuka!

Nama Lengkap    :       Dimas Fahmil Haris

Asal Kwarcab      :       Sidoarjo

Akun WA            :       085701694925

Akun IG             :       ufixerman

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here