Ponselku kali ini berdenting cukup panjang. Tak seperti biasanya, pikirku. Ku tilik satu persatu. Ku baca kata, pun kalimat dari beberapa pesan notif yang masuk. Ada satu pesan yang merayuku agar jemariku segera membukanya. Sementara ingar-bingar kegaduhan kelas yang ramai hingga layak disebut seperti pasar karena jamkos, juga ditambah sinyal wifi IPS ZONE yang pasang surut; kadang mudah, tak jarang juga sulit, semakin membuat mood ku kacau balau. Tak karuan. Sementara itu, jemariku telah berhasil membuka satu pesan. Tidak. Pesan itu memang dikirimkan oleh satu pengirim, tapi chat yang dikirimkan tak hanya satu. Ku sudutkan mata pada nama sang pengirim. Asyrof rupanya, ia Dewan Ambalan angkatanku.

“Sil,” pesan pertamanya.

Yap, namaku Silvi, lengkapnya Silvi Nur Suhailin. Aku masih duduk dibangku kelas XI jurusan IPS di salah satu Aliyah Kota Tulungagung. Andaikata dapat ditarik ulur, menurutku aku lemah dalam sejarah. Sejarah apapun itu; Sejarah Kebudayaan Islam, Sejarah Peminatan, Sejarah Indonesia, dan sejarah masa lalu. Eh malah ngelantur. Tapi aku gemar membaca. Aneh memang.

“Besok bisa jadi fasilitator, kan? Cepat balas pesanku ya, aku segera butuh kepastian.”

“Kalau nggak bisa, carikan ganti. Secepatnya!”

Ah yang benar saja. Pesan itu mampu membuat mata kantukku menjadi terbelalak seketika. Silvi terdiam sejenak. Satu menit, satu setengah menit. Hingga jemarinya menerima respon agar segera membalas pesan tersebut. Gadis itu mengadu pada pesan yang akan dikirimkan pada temannya, Asyrof, lewat ponselnya.

“Bukankah ini begitu mendadak? Bukannya aku enggan menerima tawaranmu. Tapi ini masih jam sembilan. Aku belum ijin. Belum pula packing. Tapi ini benar-benar mendadak, Srof,”

“Perihal penawaran fasilitator di grup, bukankan membutuhkan dua pasang pengganti? Aku menggantikan siapa dan siapa selain aku? Semisal aku usul Dian, bisa? Aku sudah menghubunginya, dan dia bilang sanggup,”

“Aku memang ingin. Bahkan sangat ingin menerima penawaranmu. Tapi, ini sangat mendadak.” Kiranya begitulah keluh kesah Silvi yang tak dapat dipendam.

Tak butuh waktu lama ponselku berdenting lagi. Dugaanku benar. Asyrof membalas pesanku dengan cepat.

“Kamu dengan Dian saja. Aku akan menemuimu, sedikit lagi bel istirahat. Ketemu di depan kelasmu ya,”

Segera saja aku mengirimi pesan kepada Dian agar segera bertatap muka denganku. Kami tampak aneh. Pada raut muka tersirat kebahagiaan, tapi pada fisik, kami tampak begitu bingung. Nanti berangkat jam sekian, dari sana sampai jam berapa, ya? Sekiranya packing, apa yang harus dibawa? Tugas kita ngapain aja disana? Pikiran tersebut mampu membuat Silvi tertekan seketika. Tak sampai lima menit Asyrof dan Nabil ada diujung pandang. Dijelaskannya secara runtut, namun tak begitu detail. Beberapa menit kemudian, mereka berdua pamit. Undur diri dari hadapanku dan Dian.

“Aku kasih nomornya Kak Deni, Sil. Suruh buatkan dispen pengganti Saiful dan Ndharu.”

“Siap.” Balasku singkat.

Segera saja aku chat Kak Deni. Disuruhnya aku untuk mengiriminya nama lengkap, kelas, dan siapa penggantiku, pun pada Dian. Beliau berpesan agar mengambilnya jam dua nanti. Aku dan Dian bergegas angkat kaki dan segera menunaikan ibadah sholat dzuhur. Setelahnya aku harus menunggu Dian ujian mapel Fiqih, dan kelasku masih betah pada jam kosongnya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua yang artinya aku harus bergegas pergi ke Sanggar Bhakti Candradimuka guna mengambil surat dispen dari Kwarcab. Surat dispen sudah diambil alih oleh telapak tangan kananku. Segera saja aku menggandakannya, dan ku sebar ke kelas yang membutuhkan surat tanda ijin untuk tidak mengikuti pelajaran selama beberapa hari kedepannya.

Tepat pukul tiga Sore, bel sekolah berbunyi, membelah kesunyian di beberapa kelas, membuat keriuhan, sekejap hilang. Pulang. Sepeda motor yang ku tumpangi melaju tak lebih dari 65/km. Silvi dan Dian dalam perjalanan menuju beberapa tempat. Sempat berdebat, akhirnya temu sepakat. “Oke, Di. Setelah ini aku bersiap packing, semoga sebelum adzan maghrib aku dapat menjemputmu.”

Kami berpisah di perempatan jalan. Ia lurus pada jalan pulang, sedang aku memilih belok kiri menelusuri sebuah tempat. Motorku berhenti tepat diteras rumah. Aku bergegas membuat cek list barang, setelahnya lekas ku lakukan packing. Ku tilik list yang ku buat, ku centang yang sudah masuk tas, ku lingkari yang belum aku dapat. Ah hampir lupa. Aku belum ijin bapak. “Ijin bapak dulu, deh. Setelah itu baru mandi.” Gumamku sendiri.

“Pak, ngapunten, niki wau kulo nembe disanjangi rencang. Mendadak. Kamis ngantos Jumat kulo ten Pantai Gemah wonten acara pramuka. Niki kulo sampun packing, kedik maleh siram, enggal bidal.” Ijinku pada Bapak dengan bahasa Jawa krama sebisaku.

“Kok ndadak banget, nduk. Yowis gakpopo, ati-ati nek kono. Tak wenehi sangu mengko,”

“Enggih, Pak.” Yeay udah ngantongin ijin, nih, batinku.

Kakiku melesat menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian aku berhasil keluar dengan badan sudah bersih. Segar. Ku naiki tangga dan menuju kamar untuk memakai pakaian. Dirasa cukup, aku segera pamit bapak, dan kakak. Lebih tepatnya kembaranku.

“Pak, Mbak Sil, aku pamit,”

“Iyo nduk. Iki sangune.” Tanganku meraih tangan bapak, bersalaman, pun pada mbak Silva.

Dua puluh menit lagi adzan maghrib berkumandang di masjid maupun mushola terdekat. Silvi segera pergi menuju sebuah tempat, rumah Dian. Tak sampai sepuluh menit ia telah sampai. “Masuk sini, nduk.” Tawar ibu Dian yang ku jawab dengan anggukan. Dua sampai lima menit kemudian terdengar gema adzan maghrib yang menggiringku untuk segera melaksanakan ibadah sholat maghrib. Setelahnya, aku dan Dian berpamitan, meminta doa semoga selamat sampai tujuan. Sebab, aku pernah mendengar bahwasannya JLS atau Jalur Lintas Selatan adalah salah satu jalan yang curam dan cukup memakan banyak korban.

Diperjalanan, aku dan Dian saling meyakinkan satu sama lain. “Sil, berani, kan? Jam segini dua anak cewek keluar sendirian. Enggak baik,”

“Berani. Kita pasti sampai, Di.” Jawabku meyakinkan Dian.

Sepeda motor melaju lirih membelah sunyi, melangkahi jalan lebar bernama JLS yang sudah terlelap. Berani sekali dua sosok gadis berumur tujuh belasan ini, pergi, berdua saja. Silvi sempat merasa takut. Entah karena tahayul yang beredar ataupun takut pada kejadian yang tak diinginkan “Ayolah, aku ingin segera sampai.” Batin Silvi sendiri.

“Itu tempatnya, Di, kita sampai.”

Setibanya  disana, kami di arahkan disuatu tempat untuk mengistirahatkan motor abu-abu yang kami kendarai. Kami berdua bingung. Mau ngapain, sih? Toh yang aku lihat: beberapa tenda sudah hampir berdiri, gapura hampir jadi, lantas apa yang harus aku dan Dian perbaiki? Kami jadi bingung sendiri. Ada yang kami kenal. Beberapa. Tetapi, mereka seakan sibuk pada urusannya. Ku tarik lengan Dian. “Sholat dulu. Ntar kita tunggu disana saja. Siapa tau ada yang kasihan, lalu ngajak kita gabung.”

Setelah sholat, kami seakan menunggu belas kasihan. Hampir tak ada yang peduli. Hingga Nabil datang, menghampiri kami. Diajaknya kami untuk bergabung disebuah warung bersama Kak Andika, pembinaku. Namun, ku urungkan niat baiknya karena ibu menelfonku. Ibu sedang kerja di luar negeri. Cukup lama kami bercakap, aku pamit kepada ibu agar menelfonku Jumat Malam, sebab sinyal di pantai sangat sulit. Tut.. panggilan kami terputus.

“Segera istirahat, dimanapun. Sudah hampir jam dua belas malam.”

Kiranya begitu yang disampaikan Kak Andika, dan kami meng-iyakan apa yang dikatakan beliau. Aku mengajak Dian untuk tidur disebuah tenda yang didalamnya juga ada tenda. Untuk peserta esok, pikirku. “Semangat buat besok!” Ucapku menyemangati diriku sendiri.

***

Malam merayap pamit untuk pulang. Lalu, sebuah sinar memberanikan diri. Membakar dirinya sendiri. Silvi dan Dian terbangun. Terlihat beberapa orang yang tengah tidur ditengah-tengah mereka. Sejak kapan mereka tidur ditenda bersama kami?

Waktu menunjukkan pukul empat lebih lima puluh menit. Aku mengajak Dian untuk bergegas menunaikan ibadah sholat subuh dan membawa alat mandi. Urusan mandi atau tidak, toh yang penting terciprat air. Begitu pikirku. Dua puluh menit kemudian, kami menyeret kaki kami menuju buper. Semua fasilitator terlihat mempersiapkan dirinya. “Nih, aku kasih rompi. Sebagai identitas fasilitator.” Lenganku mengayunkan tangan, meraih rompi oranye tersebut. Ku lihat baik-baik. Semacam rompi tukang parkir. Tapi bukan.

Aku bertemu banyak wajah asing disini. Kalau belum kenal, aku cenderung pendiam. Pemalu. Namun, jika sudah kenal dan cukup akrab, aku lebih sering menyodorkan pertanyaan pada lawan dan lebih senang banyak bicara.

Pagi itu, aku bertugas dropping cat. Sungguh, sebenarnya aku belum faham betul apa yang harus ku lakukan. Akhirnya, aku memberanikan diri berkenalan. Mengulurkan tangan sembari memberikan identitas nama. “Namaku Khusnul, ini temanku Rizky dan satunya Andy.” Balasnya dengan hangat. Aku tak tau mengapa Khusnul ngedumel sendiri. Katanya “Lah, ini kan udah molor satu jam. Konsumsi belum dateng, cat belum dianter. Ntar kalau molor yang salah siapa?” kurang lebih begitu salah satu pekik kepanikan seseorang yang baru ku kenal itu. Tapi ada apa denganku, mengapa tak merasa sepanik dia? Entahlah, mungkin karna aku memang belum faham betul apa tugasku. Kalem. Jangan panik. Jalani saja.

Kala itu, pukul enam kurang sepuluh menit. Waktu mampu menyeret mobil tanpa atap yang dengan teganya menumpuk beberapa cat dengan cat lain. Kalau saja aku yang jadi cat, mungkin badanku sudah tak berbentuk karna tergencet dengan cat yang lain. Tak lama kemudian, datang mobil berisi konsumsi dengan menawarkan seabrek kelaparan pada banyak orang. Sebungkus nasi pecel mampu menyumbat sepersekian menit ocehan Khusnul. Hingga, sepersekian menit berikutnya ada sesuatu yang membakar dirinya. Sebuah semangat. “Pak, kita naik diatas cat ya.” Tawarku dengan dibalas anggukan oleh bapak cat.

Mobil tak beratap berjalan lirih. Mendahului beberapa lapak maupun warung yang tengah berbaris rapih. Tak sampai lima menit, kami sampai pada lapak pertama, lapak paling Selatan. Kala itu entah siapa yang memanas; ibu pemilik lapak, atau cuaca yang terik, tapi keduanya sama-sama mencekik. Ibu tersebut sempat berargumen lama dengan kami. Hingga kami bertemu sebuah sepakat. Syukurlah, akhirnya tak berujung debat.

“Aku ikutan gabung ya,”

Siapa yang menawarkan diri? Ia siapa? Sungguh, sejak kapan ada malaikat turun ditengah cuaca yang terik seperti ini?

Ku tanyakan pada Mbak Khusnul, salah satu fasilitator yang juga bertugas dropping cat dengan kami. Mbak Khusnul bilang, perempuan yang ku anggap cantik itu bernama Kak Nunuk. Selesainya kami mengedarkan cat, kami diajak minum es degan, sebab cuaca saat itu sangatlah panas. Ah, dasar manusia, panas kau caci, turun hujan pun kau maki. Setelah itu, kami bergegas mengedarkan kuas, roll, dan juga wadah untuk cat. Waktu yang kami butuhkan untuk mengedarkan ketiga barang tersebut tak sampai satu jam.

Singkat cerita, kami diharuskan segera menuju buper guna melaksanakan briefing. Sesampainya di tenda, kami melaksanakan briefing sebelum melanjutkan acara bhakti pengecatan. Aku bertugas bersama Arven, yang; mengeja namanya saja sulit, apalagi mengingatnya. Tepat ditenda itu adalah kali pertama aku mampu melihat batang hidungnya. Sekiranya cukup untuk mengenal, aku bergegas melaksanakan sholat dzuhur. Tak lama kemudian, perutku bergemuruh, “Laper woy!” begitu protesnya. Setibanya di tenda, aku langsung diberi sebungkus nasi, yang pastinya langsung ludes habis ku makan.

“Silahkan untuk kontingen Tulungagung segera menempati nomor lapak yang sudah diberi stiker!” ucap salah satu fasilitator.

Siang itu fasilitator berkumpul di lapangan tengah, “Semoga acara bhakti pengecatan hari pertama berjalan lancar. Dan sebelum acara dimulai, marilah kita berdoa. Berdoa, dipersilahkan.” Tampak khusyu, “Selesai,” kami segera bergegas menuju lapak masing-masing.

Aku dan Arven menempati lapak nomor 51-60. Dan entah kesengajaan atau memang begitu, ketiga dari sepuluh lapak tersebut ternyata adalah kelompok dari ambalanku. Ku rasa, ada plus, juga minus tersendiri ketika harus berhadapan dengan teman-teman se-ambalan. Bhakti pengecatan pertama alhamdulillah berjalan cukup lancar. Acara tersebut selesai kurang lebih pukul tiga. Setelah itu, kami, fasilitator berkumpul di pantai. Namun tak sampai menyentuh bibir pantai. Kami berkumpul, melaksanakan evaluasi, dari lapak 01 hingga lapak 100. Dirasa cukup, kami diperbolehkan bubar. Segara saja aku melaksanakan sholat ashar, dan tak lupa mandi, pastinya. Sekembalinya aku dan Dian ke camp, kami langsung mencari konsumsi. Dan tak perlu lama mencari, kami telah mendapatkan sebungkus nasi, dan kami langsung melahapnya.

Fajar mengalah. Sore itu, biar senja yang tampak indah. Agenda malam pertama adalah pembukaan. Semua peserta; kontingen Tulungagung maupun kontingen Trenggalek, tampak antusias. Ah, tapi aku tak dapat menikmati bagaimana lampu itu dapat berputar dan bersinar, bagaimana kebahagiaan dari tiap wajah terpancar. Sebab, saat itu sepatuku dipinjam salah satu panitia, dan aku enggan melangkahkan kaki kemanapun. Hingga akhirnya.. “Sil, gabung sama yang lain. Udah ditungguin,” ucap ipud, yang mampu membuatku berubah pikiran.

Silvi menuju tenda yang berisi fasilitator lain. Namun ia sendiri, duduk dengan entah siapa. Tak lama. Tiba-tiba saja acara usai. Dan seluruh fasilitator berkumpul di tenda untuk melaksanakan briefing guna persiapan besok Pagi. Selesainya briefing, aku langsung mempercepat langkah kaki menuju mushola, melaksanakan sholat isya. Setelah itu, kami; aku, Dian, Khusnul dan juga Andy menginap di salah satu warung. Kami diijinkan tidur diluar. Nyaman. Sebab ada kursi panjang dan juga ranjang tanpa kasur yang menurutku cukup untuk mulai merangkai mimpi.

***

Singkat cerita, Kamis manis.

Malam diambil paksa oleh Pagi dengan cepat. Kami bergegas mengambil alat mandi, dan berjalan menuju mushola untuk menunaikan sholat subuh.

Pukul enam Pagi, seluruh fasilitator telah bersiap mengikuti senam yang bertempat dilapangan utama. Agenda selanjutnya adalah bersih-bersih pantai yang dilaksanakan kurang lebih empat puluh lima menit. “Lapar.” Mungkin kala itu persepsi fasilitator dengan peserta tak berbeda jauh. Sempat berbeda instruksi terkait pembagian konsumsi, akhirnya disepakati untuk makan Pagi berada di pantai. Kami meng-iyakan instruksi tersebut.

Selesai makan, seluruh peserta kontingen Tulungagung maupun Trenggalek berkumpul pada kontingennya masing-masing. Pun kala itu ada pembagian tugas, meneruskan pengecatan hari ke dua, yang sebagian berada di lapak yang tetap berada di Pantai Gemah, dan sebagian lagi berada di Pantai Klatak. Sekiranya pembagian peserta cukup, gantian pembagian fasilitator untuk membagi pendamping; siapa yang tetap tinggal, dan siapa yang meninggalkan. Tak sampai lima menit, keputusan sudah dapat diambil.

Kala itu aku tetap tinggal, menunggu peserta finishing lapak. “Pagi ini sampai pukul 11.30. Segera diselesaikan, biar nanti Siang tinggal beres-beres.” Kurang lebih begitu perintahku pada lapak yang aku tunggu. Lapak yang ku tunggu hampir semuanya cukup, hanya saja karna beberapa keterbatasan yang putra, ada pula lapak yang belum selesai dan meninggalkan catnya pada sang pemilik.

“Baik, kita istirahat Siang. Segera sholat dan makan, nanti jam satu kita kembali lagi. Semangat!” ungkapku tak kalah semangat.

***

Setelah ishoma, kami melanjutkan bhakti pengecatan yang terakhir. Sedih memang. Terkadang kita kerap menghakimi perpisahan. Kenapa setiap pertemuan harus diawali perkenalan, dan diakhiri perpisahan? Kenapa baru ngrasain nyaman, harus berpisah gitu aja? Kenapa juga, berpisah selalu menyisakan rindu? Adakah perpisahan yang berakhir baik-baik saja? Cukup. Memang perasaan memiliki egonya sendiri. Dasar egois! Kutukku pada perasaanku sendiri.

“Ini, jangan lupa cat yang jatuh dan sekiranya bisa dibersihkan, silahkan dibersihkan.”

“Iya kak,”

Ah hampir selesai semua rupanya,

“Mbak ayo foto, buat kenang-kenangan,”

Yap, beberapa peserta mengajakku foto bersama. Dan aku merasa senang akan penawaran tersebut. Meski sebenarnya aku lumayan anti kamera. Satu foto, ah kurang, dua foto, juga masih kurang. Maklum, gayanya sok mau pisah gitu, hehe.

***

Tiba saat yang ditunggu-tunggu. Dengan guest star Klantink, mungkin mampu membuat penutupan malam ini, berakhir tangis, yang manis. “Ayo fasilitator yang laki-laki segera merapatkan barisan.” Kejutan apa lagi yang akan mereka buat?

Hingga tampak di belakang mereka salah satu pemain Klantink, yang sedang memikul sebuah alat musik di bahunya. Sebuah biola. Kala pemain tersebut menggesek biolanya, sontak hampir seluruh peserta mencari-cari, darimana asal gesekan biola tersebut? Pandangan mereka kini tertuju pada pemain biola tersebut. Ia berjalan menuju panggung utama. Benar-benar apik. Caranya menggesek biola, caranya menarik hati wanita. Sungguh, ingin sekali aku berada didekatnya. Maaf ngelantur lagi ini.

Beberapa lagu yang dibawakan Klantink mampu menghipnotis siapapun yang ada disana; ada yang berjingkrak, bersorak, pun yang teriak-teriak. Tak sampai pukul dua belas, mereka menyudahi permainan musik yang sungguh apik itu. Peserta mulai berguguran. Ingin segera hanyut bersama mimpi, mungkin. Aku dan Dian segera menuju mushola untuk melaksanakan sholat isya. Sesudahnya sholat isya, kami bergegas mengambil tas dan segera menjinjingnya guna mengungsi di penginapan; warung langganan kami.

Aneh, kala pertama aku sampai di tempat ini, rasanya ingin segera pulang saja. Namun saat ini, rasanya beda, enggak pengen ninggalin entah mengapa. Jadi, ini yang namanya definisi nyaman?

“Sil, enggak pengen jalan-jalan malam?” tawar Dian padaku.

“Ayo, daripada enggak ada kerjaan,”

Akhirnya aku dan Dian jalan-jalan sejenak. Aku kira hanya aku dan Dian yang merasa kesepian. Ternyata teman-temanku berkumpul dilapak yang sebelumnya ia cat. Mungkin mereka juga ngerasa kesepian. Kami terus melangkah, melanjutkan perjalanan. Dirasa cukup, kami kembali untuk segera beristirahat. “Sampai jumpa besok, Jumat.” Gumamku sebelum membenamkan bola mataku.

***

Benar-benar. Mengapa Malam hanya seperti kedipan mata. Kami beranjak bangun. Segera melaksanakan sholat subuh, dan kali ini sungguh berbeda. Kami bisa tidur lagi sembari menunggu peserta selesai beres-beres. Selesainya beres-beres, kami berpamitan, sekenanya saja sebab beberapa panitia juga masih sibuk.

Kurang lebih pukul sebelas aku pulang dengan boncengan berbeda. Dian dengan Ipud, sebab ia buru-buru ingin segera pulang katanya. Sedangkan aku masih ingin menunggu kendaraan teman-teman. Setibanya kendaraan itu dilokasi, aku dibonceng Mutiara. Alhasil, selama diperjalanan helm ku terus saja bertabrakan dengan helm Mutiara. Bukan karena jalan. Terlebih karena aku tak bisa menahan kantuk. Tak bisa menahan agar segera tiba, pada sampai.

Mungkin awalnya aku merasa ini terlalu cepat, namun, pengalaman ini sungguh berada pada waktu yang tepat.

***

 

 

 

 

NAMA                : SILVI NUR SUHAILIN

KWARCAB          : TULUNGAGUNG

AKUN SOSMED    : Email : silfisuhailin@gmail.com / YouTube : silfi suhailin / IG : @slvnrsh_ / Twitter : @slvnrshh / Facebook : Silvi Suhailin

10 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here